
Bekasi, Indonesia. Global Prestasi Junior High School sukses menyelenggarakan Cinematography Camp selama dua hari pada 20–21 Juli 2026, bekerja sama dengan Jakarta School of Photography (JSP). Program ini dirancang untuk memperkenalkan siswa GPJHS pada dasar-dasar sinematografi, seni peran, produksi film, dan media digital, sekaligus mendorong kreativitas, kolaborasi, komunikasi, serta pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.
Program ini diikuti oleh siswa Grade 8 dengan pendampingan dari fasilitator Jakarta School of Photography (JSP). Melalui perpaduan sesi teori, demonstrasi, praktik langsung, dan produksi film secara berkelompok, siswa memperoleh kesempatan untuk merasakan proses pembuatan film secara menyeluruh, mulai dari pengembangan konsep hingga presentasi film pendek hasil karya mereka.

Hari pertama Cinematography Camp yang berlangsung pada 20 Juli 2026 berfokus pada pengenalan konsep dan teknik dasar pembuatan film, termasuk sudut pengambilan gambar, framing, komposisi, pergerakan kamera, peralatan perekaman, dan penceritaan visual. Sesi ini juga memperkenalkan pentingnya perencanaan dan komunikasi dalam mengembangkan sebuah film.
Selain mempelajari sinematografi, siswa juga mengeksplorasi dasar-dasar seni peran dan pengembangan karakter. Mereka belajar bagaimana ekspresi wajah, bahasa tubuh, suara, dan interpretasi karakter berkontribusi dalam membangun cerita yang efektif. Siswa juga berlatih seni peran melalui sesi penampilan singkat sebagai bagian dari kelas acting.
Kegiatan pembelajaran disampaikan melalui demonstrasi dan praktik interaktif, sehingga siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mulai menerapkan konsep yang telah dipelajari.
Siswa menikmati proses pembelajaran yang berlangsung. “Kami senang berlatih acting dan belajar bagaimana menunjukkan emosi tertentu dalam berbagai situasi,” ujar Malik, salah satu siswa.
Pada 21 Juli 2026, siswa beralih dari mempelajari dasar-dasar sinematografi ke tahap penerapan pengetahuan melalui proyek film pendek.
Siswa bekerja sama dalam tim produksi untuk membuat film pendek mereka sendiri. Setiap kelas dibagi menjadi dua kelompok, dengan sekitar 12–13 siswa di setiap kelompok. Secara keseluruhan, terdapat 10 kelompok yang menghasilkan film pendek dengan cerita yang beragam.

Dalam tim produksi film, siswa menjalankan berbagai tanggung jawab, termasuk acting, penyutradaraan, pengoperasian kamera, pengembangan naskah, serta peran lain yang berkaitan dengan produksi. Proses kolaboratif ini mendorong siswa untuk berkomunikasi secara efektif, membagi tanggung jawab, mengatur waktu, dan mengambil keputusan bersama sebagai sebuah tim.
Tema utama produksi film pendek adalah “Being Responsible for Our Decisions and Our Future.” Melalui tema ini, siswa diajak mengeksplorasi bagaimana pilihan yang mereka buat sehari-hari dapat memengaruhi masa depan mereka serta orang-orang di sekitar. Dengan demikian, proses pembuatan film tidak hanya menjadi kegiatan kreatif, tetapi juga pengalaman belajar yang bermakna untuk menghubungkan storytelling dengan pendidikan karakter.
Setelah proses pengambilan gambar selesai, siswa melanjutkan kegiatan ke tahap penyuntingan video dan pascaproduksi. Mereka mempelajari bagaimana rekaman mentah dapat disusun dan diolah menjadi film pendek yang utuh melalui proses editing, penyusunan adegan, pengolahan suara, dan berbagai elemen penyempurnaan lainnya.
“Prosesnya cukup sulit karena kami harus mengatur tim dan memastikan semua orang dapat menjalankan perannya pada waktu yang bersamaan,” ujar Dea, salah satu siswa, saat proses produksi film berlangsung.
Di akhir sesi, setiap kelompok telah menyelesaikan film pendek mereka masing-masing dan siap mempresentasikan hasil kerja kolaboratif tersebut.
Program ini ditutup pada sore hari tanggal 21 Juli melalui sesi penghargaan untuk memberikan apresiasi kepada Best Short Film dari setiap kelas.
Penghargaan ini menjadi kesempatan untuk mengapresiasi kreativitas, kerja sama tim, storytelling, dan komitmen siswa sepanjang proses produksi. Lebih dari sekadar hasil akhir, perayaan ini juga menyoroti perjalanan belajar yang ada di balik setiap film.
Antusiasme siswa selama proses produksi menunjukkan bahwa pembuatan film dapat menjadi media pembelajaran yang efektif untuk mengembangkan berbagai keterampilan, termasuk berpikir kreatif, komunikasi, kolaborasi, pemecahan masalah, literasi digital, dan tanggung jawab.
Cinematography Camp memberikan kesempatan autentik bagi siswa untuk merasakan proses kreatif di balik produksi film. Tidak hanya mempelajari pembuatan film melalui teori, siswa juga ditantang untuk mengubah ide menjadi cerita visual dan bekerja sama menghasilkan karya nyata.
“Cinematography Camp adalah pengalaman yang sangat menyenangkan karena kami tidak hanya belajar bagaimana membuat film, tetapi juga belajar bekerja sama dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab,” ujar Rex saat ditanya mengenai pengalamannya.
Siswa lainnya turut berbagi pengalaman.
“Saya paling menikmati proses pengambilan gambar karena setiap anggota kelompok memiliki peran yang berbeda. Kami harus berkomunikasi dan saling membantu untuk menyelesaikan film kami,” ujar Mika.
Melalui Cinematography Camp 2026, Global Prestasi Junior High School terus menghadirkan pengalaman belajar yang menghubungkan pengetahuan akademik dengan keterampilan praktis dan penerapannya dalam kehidupan nyata.
Kolaborasi bersama Jakarta School of Photography (JSP) memberikan kesempatan kepada siswa untuk mendapatkan wawasan langsung mengenai industri media kreatif, sekaligus mengembangkan keterampilan penting untuk masa depan. Pengalaman ini menunjukkan bahwa pembelajaran tidak hanya berlangsung melalui kegiatan kelas konvensional, tetapi juga melalui proyek-proyek bermakna yang mendorong siswa untuk menciptakan karya, berkolaborasi, berkomunikasi, dan melakukan refleksi.
Pada akhirnya, Cinematography Camp bukan sekadar pengenalan terhadap dunia perfilman. Program ini juga menjadi bagian dari persiapan siswa menghadapi proyek besar Semester 1, yaitu Film Festival. Melalui program tersebut, siswa akan berkolaborasi selama kurang lebih tiga bulan untuk menghasilkan film pendek dengan kualitas yang lebih baik sekaligus mengembangkan keterampilan perfilman mereka lebih jauh.
Global Prestasi Junior High School berkomitmen untuk terus menghadirkan pengalaman belajar inovatif dan berbasis pengalaman yang memberdayakan siswa menjadi pembelajar yang percaya diri, kreatif, bertanggung jawab, dan siap menghadapi masa depan.
Author: Rio Heryasta
Editor: Lady Yesisca
Documenter: JHS Teachers

IELTS vs TOEFL untuk kuliah ke luar negeri, mana yang tepat? Bandingkan format tes, speaking, skor, durasi, dan persyaratan universitas.

Simak 15 universitas terbaik di Inggris berdasarkan QS World University Rankings 2027, dari Imperial, Oxford, Cambridge, UCL, hingga Durham.

Hari Sumpah Pemuda diperingati setiap 28 Oktober. Kenali sejarah, isi ikrar, tokoh penting, dan makna Sumpah Pemuda bagi generasi muda.
