
Kurikulum Merdeka PAUD merupakan kurikulum yang memberikan ruang kepada satuan pendidikan dan guru untuk merancang pengalaman belajar sesuai kebutuhan, konteks, serta tahap perkembangan anak usia dini.
Pada jenjang PAUD, pembelajaran tidak berfokus pada seberapa cepat anak menguasai kemampuan akademik seperti membaca, menulis, dan berhitung. Anak membangun berbagai kemampuan fondasi melalui bermain, eksplorasi, interaksi, komunikasi, dan pengalaman yang bermakna.
Capaian Pembelajaran PAUD berada pada Fase Fondasi dan terdiri dari tiga elemen yang saling berkaitan, yaitu Nilai Agama dan Budi Pekerti, Jati Diri, serta Dasar-Dasar Literasi, Matematika, Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Seni. Panduan resmi terbaru juga menekankan bahwa satu kegiatan dapat mengembangkan beberapa aspek kemampuan anak secara bersamaan.
Lalu, bagaimana Kurikulum Merdeka diterapkan di satuan PAUD dan seperti apa contoh pembelajarannya? Simak penjelasan berikut.
Baca Juga: Kurikulum Merdeka Belajar: Pengertian, Tujuan, dan Implementasinya
Kurikulum Merdeka PAUD adalah penerapan Kurikulum Merdeka pada layanan Pendidikan Anak Usia Dini dengan pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik perkembangan anak.
Guru tidak sekadar menyampaikan materi yang sama kepada seluruh anak. Pembelajaran dirancang dengan mempertimbangkan:
Pada PAUD, aktivitas bermain menjadi bagian penting dalam proses belajar. Anak memperoleh pemahaman melalui pengalaman nyata, misalnya mengamati tanaman, bermain peran, menyusun balok, mendengarkan cerita, menggambar, atau bereksperimen dengan berbagai benda.
Dengan demikian, Kurikulum Merdeka PAUD tidak bertujuan membuat pembelajaran anak usia dini semakin akademis. Sebaliknya, kurikulum memberi ruang agar anak membangun fondasi perkembangan dan kemampuan belajar yang dibutuhkan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya.
Pada 2026, pemerintah menerbitkan Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2026Â sebagai penyesuaian terhadap regulasi kurikulum sebelumnya.
Regulasi tersebut bukan mengganti Kurikulum Merdeka dengan kurikulum baru, melainkan memperkuat arah kebijakan yang sudah berlaku. Beberapa penyesuaiannya antara lain penggunaan istilah Profil Lulusan, penguatan kegiatan kokurikuler, dan penerapan pendekatan Pembelajaran Mendalam.
Selain itu, mulai Januari 2027 berlaku Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2027 tentang Standar Proses, yang mengatur perencanaan, pelaksanaan, serta penilaian proses pembelajaran pada PAUD hingga pendidikan menengah.
Artinya, penerapan Kurikulum Merdeka PAUD saat ini perlu dilihat bersama dengan beberapa penguatan terbaru tersebut.
Dalam dokumen kurikulum terbaru, istilah Profil Pelajar Pancasila disesuaikan menjadi Profil Lulusan.
Perubahan tersebut bukan berarti nilai-nilai Pancasila dihilangkan. Profil Lulusan justru memperkuat pengembangan karakter dan kompetensi yang ingin dibangun melalui pendidikan.
Delapan dimensinya meliputi:
Pada PAUD, pengembangannya tentu disesuaikan dengan tahap perkembangan anak dan diwujudkan melalui pengalaman sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Kurikulum juga diperkuat dengan pendekatan Pembelajaran Mendalam atau Deep Learning.
Pembelajaran Mendalam bukan kurikulum baru. Pendekatan ini menekankan proses belajar yang:
dan melibatkan olah pikir, olah hati, olah rasa, serta olah raga secara terpadu.
Pada PAUD, penerapannya tetap berpusat pada pengalaman, bermain, eksplorasi, dan interaksi yang sesuai usia anak.
Capaian Pembelajaran atau CP menggambarkan kemampuan yang diharapkan berkembang pada murid selama suatu fase pembelajaran.
Untuk PAUD digunakan Fase Fondasi.
Berbeda dengan pembelajaran yang memisahkan perkembangan anak menjadi banyak bagian secara kaku, CP Fase Fondasi dirancang agar berbagai kemampuan dapat berkembang secara terintegrasi.
Terdapat tiga elemen utama.
Elemen ini membantu anak membangun dasar nilai, kebiasaan baik, serta hubungan yang positif dengan dirinya, orang lain, lingkungan, dan Tuhan sesuai agama atau kepercayaannya.
Contoh kegiatan:
Anak belajar nilai tidak hanya melalui penjelasan, tetapi terutama melalui contoh dan kebiasaan sehari-hari.
Jati Diri berkaitan dengan kemampuan anak mengenali dirinya sekaligus membangun kemampuan sosial, emosional, dan fisik.
Anak mulai belajar:
Contohnya, ketika anak belajar memakai sepatu sendiri, ia tidak hanya melatih motorik tetapi juga membangun kemandirian dan rasa percaya diri.
Elemen ketiga mencakup berbagai kemampuan dasar yang membantu anak memahami dan berinteraksi dengan dunia di sekitarnya.
Literasi pada PAUD tidak hanya berarti mampu membaca.
Begitu pula numerasi tidak hanya berarti mampu menghitung angka.
Anak dapat membangun fondasi literasi, numerasi, sains, dan kreativitas melalui:
Panduan Fase Fondasi menekankan bahwa pembelajaran PAUD perlu membangun kemampuan secara terpadu dan tidak membatasi satu aktivitas hanya untuk satu aspek perkembangan.
Penerapan kurikulum PAUD tidak hanya berkaitan dengan tema atau materi yang diajarkan. Satuan pendidikan juga mengatur pengalaman belajar melalui kegiatan intrakurikuler dan penguatan kokurikuler.
Intrakurikuler merupakan kegiatan utama untuk membantu anak mencapai Capaian Pembelajaran Fase Fondasi.
Pada PAUD, intisari kegiatan tersebut adalah bermain yang bermakna, yaitu aktivitas yang memberikan pengalaman menyenangkan sekaligus membantu anak mengembangkan kemampuan tertentu.
Lingkungan nyata di sekitar anak dapat menjadi sumber belajar utama.
Contohnya:
Teknologi, video, maupun buku dapat digunakan sebagai pendukung ketika relevan, tetapi tidak perlu menggantikan pengalaman langsung anak.
Baca Juga: Kegiatan Intrakurikuler: Pengertian dan Contohnya
Kokurikuler berfungsi memperkuat pengalaman yang diperoleh anak melalui kegiatan utama.
Sejak penyesuaian kebijakan 2026, kegiatan kokurikuler dibuat lebih fleksibel dan diarahkan untuk mendukung pencapaian dimensi Profil Lulusan.
Di PAUD, bentuk kegiatannya dapat disesuaikan dengan konteks dan program satuan pendidikan.
Misalnya:
Proyek tetap dapat digunakan, tetapi bukan berarti seluruh pembelajaran Kurikulum Merdeka PAUD harus menggunakan metode berbasis proyek.
Satuan pendidikan juga dapat menyediakan aktivitas tambahan untuk membantu anak mengeksplorasi minat dan keterampilan.
Misalnya:
Program dapat berbeda sesuai kebijakan dan karakteristik masing-masing sekolah.
Bermain bukan sekadar waktu istirahat dari belajar.
Bagi anak usia dini, bermain adalah salah satu cara utama untuk belajar.
Bermain bermakna berarti aktivitas yang menyenangkan sekaligus memberikan pengalaman yang mendukung capaian perkembangan anak.
Misalnya, saat bermain toko-tokoan, anak dapat belajar:
Dalam satu aktivitas sederhana tersebut, kemampuan bahasa, numerasi, sosial, komunikasi, serta kreativitas dapat berkembang secara bersamaan.
Karena itu, pembelajaran PAUD tidak perlu selalu dilakukan dengan anak duduk mengerjakan lembar tugas.
Istilah deep learning dalam pendidikan tidak berarti anak PAUD harus mendapatkan materi pelajaran yang semakin berat.
Dalam konteks PAUD, Pembelajaran Mendalam berarti memberikan pengalaman yang membantu anak memahami, mengalami, menghubungkan, dan memaknai sesuatu.
Prinsipnya adalah berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Contohnya, guru mengajak anak mengamati tanaman di halaman.
Anak dapat:
Dari satu pengalaman tersebut, anak dapat mengembangkan sains, bahasa, motorik, kreativitas, komunikasi, serta tanggung jawab.
Pembelajaran seperti inilah yang lebih sesuai dengan karakteristik anak usia dini dibanding sekadar meminta anak menghafalkan informasi.
Berikut beberapa contoh kegiatan sederhana yang dapat digunakan untuk menerapkan prinsip pembelajaran Kurikulum Merdeka PAUD.
| Kegiatan | Kemampuan yang Dapat Dikembangkan |
|---|---|
| Menanam kacang hijau | Sains, rasa ingin tahu, tanggung jawab |
| Bermain toko-tokoan | Bahasa, numerasi, komunikasi, sosial |
| Menyusun balok | Motorik, kreativitas, pemecahan masalah |
| Membaca cerita bersama | Literasi, bahasa, imajinasi |
| Memilah sampah | Sains, klasifikasi, kepedulian lingkungan |
| Memasak sederhana | Numerasi, motorik, kemandirian |
| Menggambar pengalaman | Seni, bahasa, ekspresi diri |
| Bermain kelompok | Kolaborasi, komunikasi, sosial-emosional |
| Mengelompokkan daun | Matematika awal, observasi, sains |
| Membuat karya dari bahan bekas | Kreativitas, rekayasa sederhana, motorik |
Satu kegiatan dapat mendukung lebih dari satu elemen Capaian Pembelajaran. Hal ini sejalan dengan CP Fase Fondasi yang memang dirancang agar perkembangan anak tidak harus dipisahkan secara kaku.
Dalam Kurikulum Merdeka PAUD, guru tetap memiliki tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Namun, aktivitasnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan respons anak.
Secara sederhana, guru dapat:
Guru mengamati kemampuan awal, minat, pengalaman, dan kebutuhan murid.
Tujuan dirancang berdasarkan Capaian Pembelajaran Fase Fondasi.
Guru kemudian memilih kegiatan, lingkungan, material, cerita, permainan, maupun media yang dapat membantu mencapai tujuan tersebut.
Anak diberi kesempatan mencoba, bertanya, berinteraksi, dan menemukan solusi.
Guru berperan sebagai pendamping yang memberikan dukungan ketika dibutuhkan.
Hasil pengamatan selama kegiatan membantu guru menentukan pengalaman belajar berikutnya.
Dengan demikian, pembelajaran tidak harus berjalan sama persis untuk seluruh anak.
Asesmen pada PAUD bukan sekadar memberikan tes atau nilai angka kepada anak.
Guru dapat mengumpulkan informasi perkembangan melalui berbagai kegiatan sehari-hari.
Contohnya:
Panduan Pembelajaran dan Asesmen terbaru menempatkan pembelajaran dan asesmen sebagai satu siklus. Asesmen digunakan untuk melihat perkembangan kompetensi sekaligus membantu guru merancang pembelajaran berikutnya, dengan penekanan kuat pada fungsi formatif.
Misalnya, saat seorang anak menyusun balok, guru dapat mengamati:
Informasi tersebut lebih bermakna dibanding hanya menilai apakah susunan baloknya benar atau salah.
Literasi dan numerasi tetap penting dalam Fase Fondasi, tetapi tidak perlu diberikan dengan pendekatan akademik yang memaksakan anak menguasai baca-tulis-hitung secepat mungkin.
Anak dapat membangun kesiapan literasi melalui:
Numerasi dapat diperkenalkan melalui:
Dengan demikian, prosesnya tetap menyenangkan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Implementasi Kurikulum Merdeka PAUD tidak hanya melibatkan sekolah dan guru.
Kolaborasi dengan orang tua membantu menciptakan pengalaman yang konsisten antara rumah dan sekolah.
Beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua antara lain:
Berikan kesempatan anak bercerita mengenai pengalaman, perasaan, dan hal yang menarik perhatiannya.
Membaca bersama dapat membantu perkembangan bahasa, imajinasi, serta kedekatan antara anak dan orang tua.
Aktivitas seperti memasak, menyiram tanaman, melipat pakaian, atau membereskan mainan dapat menjadi kesempatan belajar.
Tidak semua aktivitas anak harus langsung dibantu.
Berikan ruang untuk mencoba dan menyelesaikan tugas sederhana secara mandiri selama tetap aman.
Perkembangan setiap anak dapat berlangsung dengan kecepatan yang berbeda.
Fokuslah pada perkembangan anak dari waktu ke waktu, bukan membandingkannya dengan anak lain.
Baca Juga: Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini untuk Tumbuh Kembang Anak
Pembelajaran anak usia dini yang baik perlu memberi ruang bagi anak untuk bergerak, mencoba, mengeksplorasi, berkomunikasi, dan membangun kemandirian.
Global Prestasi School (GPS) menyediakan program PAUD untuk usia 2–6 tahun yang mendukung perkembangan anak secara holistik, meliputi aspek agama dan moralitas, motorik-fisik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, dan seni.
Program PAUD GPS juga terintegrasi dengan pendekatan Montessori melalui lima area pembelajaran:
GPS juga menyediakan berbagai pengalaman pendukung seperti storytelling, practical life, cooking, kegiatan aquatik, teknologi digital, serta aktivitas tambahan sesuai program sekolah.
Pendekatan yang memberi ruang bagi eksplorasi, kemandirian, pengalaman nyata, dan perkembangan anak secara menyeluruh memiliki banyak keselarasan dengan prinsip pembelajaran yang berpusat pada kebutuhan anak usia dini.
Baca Juga: Mengenal Metode Montessori dan Manfaatnya untuk Anak
Setiap anak memiliki tahap perkembangan dan kebutuhan belajar yang berbeda. Karena itu, orang tua dapat mempertimbangkan bukan hanya target akademik, tetapi juga bagaimana lingkungan sekolah memberikan ruang bagi anak untuk bermain, bereksplorasi, berkomunikasi, dan tumbuh secara bertahap.
Pelajari lebih lanjut mengenai Program PAUD Global Prestasi School untuk mengenal pilihan Nursery dan Kindergarten, pendekatan Montessori, fasilitas, serta kegiatan pembelajaran yang tersedia.
Kurikulum Merdeka PAUD adalah penerapan Kurikulum Merdeka pada Pendidikan Anak Usia Dini yang memberi ruang bagi pembelajaran sesuai kebutuhan, konteks, dan tahap perkembangan anak dengan mengacu pada Capaian Pembelajaran Fase Fondasi.
Fase Fondasi merupakan fase Capaian Pembelajaran pada jenjang PAUD. Fase ini membantu membangun berbagai kemampuan dasar yang dibutuhkan anak untuk berkembang dan melanjutkan proses belajarnya ke jenjang berikutnya.
Terdapat tiga elemen Capaian Pembelajaran Fase Fondasi, yaitu Nilai Agama dan Budi Pekerti, Jati Diri, serta Dasar-Dasar Literasi, Matematika, Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Seni.
Bermain bermakna adalah aktivitas bermain yang menyenangkan sekaligus memberikan pengalaman yang mendukung perkembangan dan tujuan belajar anak.
Literasi dan numerasi merupakan bagian dari Capaian Pembelajaran PAUD. Namun, pengembangannya tidak terbatas pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung secara formal. Anak membangun fondasinya melalui bermain, komunikasi, eksplorasi, cerita, pengenalan pola, pengelompokan benda, dan berbagai pengalaman nyata.
Contohnya antara lain menanam tanaman, bermain toko-tokoan, membaca cerita, memasak sederhana, mengelompokkan benda, membuat karya seni, bereksperimen dengan air, atau melakukan permainan kelompok.
Tidak berarti seluruh pembelajaran harus berbentuk proyek. Proyek sederhana dapat menjadi salah satu cara memberikan pengalaman belajar yang kontekstual, tetapi guru dapat menggunakan berbagai strategi sesuai tujuan dan tahap perkembangan anak.
Pembelajaran Mendalam adalah pendekatan yang menekankan pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Pada PAUD, penerapannya dilakukan melalui pengalaman, eksplorasi, bermain, dan interaksi yang sesuai dengan perkembangan anak.
Dalam dokumen kurikulum terbaru, istilah Profil Pelajar Pancasila telah disesuaikan menjadi Profil Lulusan. Perubahan tersebut merupakan penguatan terhadap capaian karakter dan kompetensi, bukan penghilangan nilai-nilai Pancasila.
Guru dapat menggunakan observasi, percakapan, hasil karya, dokumentasi aktivitas, dan berbagai informasi perkembangan lain. Asesmen digunakan untuk memahami perkembangan anak serta membantu merencanakan pembelajaran selanjutnya.

Perbedaan sekolah negeri dan swasta dari biaya, kurikulum, fasilitas, pendaftaran hingga kelebihan dan kekurangannya sebelum memilih sekolah.

Temukan 50 contoh kata kerja bahasa Inggris beserta arti, jenis verb, V1, V2, V3, regular dan irregular verbs, serta contoh kalimatnya.

 Temukan 30 contoh kalimat efektif dan tidak efektif lengkap dengan ciri, syarat, perbedaan, alasan kesalahan, dan cara memperbaikinya.
